Jumat, 18 Agustus 2017 | 04.08 WIB
KiniNEWS>Travel>Indonesia Ku>Jejak Sejarah Mesjid Sultan Kualuh Di Labura

Jejak Sejarah Mesjid Sultan Kualuh Di Labura

Minggu, 18 Juni 2017 - 09:52 WIB

IMG-1164

MESJID Raya Al-Haji Muhammad Syah terlihat dari depan, Jumat (16/6) (Humas Kominfo Labura)

Labura, kini.co.id – MESJID Raya Al-Haji Muhammad Syah, yang terletak di Jl.Besar Tanjung Pasir, Dusun Kampung Tengah, Desa Tanjung Pasir Kecamatan Kualuh Selatan, Kab.Labuhanbatu Utara (Labura), merupakan mesjid bercorak Melayu yang didirikan oleh Sultan Kualuh III, Al-Haji Muhammad Syah pada tahun 1937.

Mesjid yang berukuran sekitar 20 x 20 meter ini terletak tak jauh dari sungai Kualuh, sungai yang membentang dari Kecamatan Kualuh Hulu, Kualuh Selatan, Kualuh Hilir, dan Kualuh Leidong. Kesultanan Kualuh merupakan pecahan Kesultanan Asahan yang berdiri pada abad XVI, sedangkan Kesultanan Kualuh pada abad XVIII.

“Pada tahun 1920 Sultan Al-Haji Muhammad Syah memindahkan pemerintahan Kerajaannya ke Tanjung Pasir dan mendirikan Istana. Anak gadis Sultan menikah dengan salah seorang pangeran dari kerajaan Langkat. Sebagaimana ayahandanya, Putri Sultan yang menjadi permaisuri tersebut berkeinginan membangun Mesjid di Labura. Sultan berkunjung ke kerajaan Langkat, beliau sangat kagum melihat keindahan bangunan Mesjid Azizi yang dibangun oleh Sultan Langkat pada waktu itu. Beliau menginginkan pembangunan mesjid di seperti Mesjid Azizi dan meminta agar membuatkan gambar dengan ukuran mini,” ujar Sultan Kualuh V, Tengku Zainal Abidin, beberapa waktu lalu.

Sultan yang dinobatkan oleh zurriyat (keturunan Sultan) generasi senior pada 25 Mei 2013 dengan gelar Yang Dipertuan Sultan Kualuh ini mengatakan, sejarah Mesjid Raya Al-Haji Muhammad Syah diawali berdirinya Kerajaan Kesultanan Kualuh di Labura pada abad XIX, tepatnya tahun 1829 dengan raja pertama Sultan Haji Ishaq Syah. Setelah beliau mangkat maka digantikan oleh putra tertuanya bernama Sultan Al-Haji Abdullah Syah dan memindahkan pemerintahan kerajaannya ke Kampung Mesjid Kecamatan Kualuh Hilir yang sebelumnya kampung tersebut bernama Djatuhan Dadih.

Perubahan nama kampung tersebut terjadi setelah kedatangan seorang ulama dari Rokan, Riau bernama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan beserta para pengikutnya sekitar 150 orang. Kedatangan ulama terkenal tersebut disambut oleh Sultan dan memberikan bantuan berupa beras dan sejumlah uang untuk keperluan para santri.

Atas anjuran Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan, setelah Sultan berguru beberapa tahun maka Sultan berniat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah beserta putranya yang bernama Tengku Biong (yang kelak akan berganti nama) pada tahun 1870 selama kurang lebih 3 tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Di sana, Sultan mendirikan tempat tinggal di sekitar Masjidil Haram tepatnya berada di Pasar Seng. Tempat tinggal tersebut diperuntukkan bagi keluarga dan masyarakat Kesultanan Kualuh yang pergi melaksanakan haji pada saat itu sehingga tidak perlu lagi mencari tempat tinggal di Mekah.

Selanjutnya setelah Sultan merasa cukup, atas permintaan rakyatnya maka Sultan kembali ke tanah air (Kualuh) dan mewakafkan tempat tinggal tersebut.

Namun sebelum Sultan berangkat ke tanah suci, bersama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan membangun sebuah mesjid, yang kelak tempat tersebut bernama Kampung Mesjid kerena terdengar kabar ada ulama besar mengajarkan ilmu agama di kampung tersebut.

“Saat ini usia mesjid 80 tahun dan termasuk cagar budaya karena sudah berusia lebih dari 50 tahun sesuai dengan Undang-Undang Cagar Budaya No. 11 tahun 2010. Mesjid ini pernah dipugar sekitar tahun 1975 oleh ABRI masuk desa dengan membangun pagar depan mesjid.Terima kasih pada masyarakat yang sukses di perantauan yang telah menyumbang, serta Pemkab Labura yang begitu memperhatikan,” tambah Sultan Kualuh V.

Dikatakannya, pihaknya berencana mewaqafkan mesjid tersebut, tetapi harus disetujui oleh seluruh ahli waris.

Situs Bersejarah Labura

Mesjid Raya Al-Haji Muhammad Syah memiliki nilai sejarah bercorak budaya Melayu di Labura. Motif mesjid ini dinilai masih memiliki nilai original.

“Mesjid yang di Tanjung Pasir masih banyak yang asli. Sekitar 3 bulan lalu, tim untuk pengkajian budaya dari provinsi datang untuk mendata tempat-tempat bersejarah di Sumut. Sekitar 30% mesjid ini belum berubah,” kata Kabid Budaya Disdik Labura, Supianto Jumat (16/6).

Dikatakannya, jika mesjid tersebut telah diwaqafkan, maka Pemkab akan mengelola mesjid tersebut sebagai tempat bersejarah.

“Mesjid ini merupakan cagar budaya peninggalan bersejarah. Tentunya layak untuk dirawat,” tambah Sugeng, Kadiskominfo Labura.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita Travel Terkini Lainnya
Bulan Madu Di Pulau Maldives
Jelajah - Kamis, 10 Agustus 2017 - 11:17 WIB

Bulan Madu Di Pulau Maldives

sepasang suami istri yang telah menyelesaikan acara resepsi pernikahan, biasanya pergi berjalan-jalan seperti yang biasa kita dengar yaitu Bulan Madu. ...
Jetstar Buka Penerbangan Singapura- Okinawa
Destinasi - Senin, 7 Agustus 2017 - 18:49 WIB

Jetstar Buka Penerbangan Singapura- Okinawa

Jetstar Asia menghadirkan penerbangan langsung berbiaya rendah dari Singapura ke Okinawa, pulau sub-tropis di bagian Selatan Jepang yang akan dimulai ...
Malam Ini Langit Dieng Akan Dihiasi Ribuan Lampion
Destinasi - Sabtu, 5 Agustus 2017 - 13:24 WIB

Malam Ini Langit Dieng Akan Dihiasi Ribuan Lampion

Gelaran Dieng Culture Festival (DFC) 2017 yang berlangsung 4-6 Agustus 2017 akan diwarnai dengan penerbangan lampion diatas langit Dieng pada ...
Tugu Monas dan Bunderan HI Dihiasi Warna Lampu ASEAN
Indonesia Ku - Sabtu, 5 Agustus 2017 - 12:06 WIB

Tugu Monas dan Bunderan HI Dihiasi Warna Lampu ASEAN

Menyambut hari jadi Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang ke-50 bulan ini, yakni pada 8 Agustus 2017. Jakarta yang ...
Lewat Media Sosial Khofifah Ikut Promosikan Pariwisata Tanah Air
Destinasi - Kamis, 3 Agustus 2017 - 22:42 WIB

Lewat Media Sosial Khofifah Ikut Promosikan Pariwisata Tanah Air

Ketakjuban Mentri Sosial, Khofifah Indar Parawansa terhadap keindahan panorama wisata Belitung membuatnya menikmati destinasi tersebut. Khofifah juga turut berbagi keasyikan ...
Dondang, Tradisi Pernikahan Khas Betawi Makin Tersisih
Indonesia Ku - Minggu, 30 Juli 2017 - 21:40 WIB

Dondang, Tradisi Pernikahan Khas Betawi Makin Tersisih

Sejumlah budaya Betawi mulai tergerus kemajuan zaman, sebut saja tradisi palang pintu, adu beduk, ujungan, shobibul hikayat, termasuk dondang. Kata ...