Minggu, 20 Oktober 2019 | 11.07 WIB
KiniNEWS>Travel>Indonesia Ku>Rakor Geopark Indonesia digelar di dalam goa

Rakor Geopark Indonesia digelar di dalam goa

Sabtu, 17 November 2018 - 20:37 WIB

IMG-1351

Rapat Koordinasi Geopark Indonesia Di Dalam Gua Rancang KencanaBleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta.

JOGJAKARTA, kini.co.id – RAPAT Koordinasi pengelola Geopark di Indonesia, diselenggarakan di dalam Goa Rancang Kencana, di Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. Dalam pertemuan ini diharapkan bisa mensinergikan seluruh pengelolan geopark di Indonesia.

Deputi Koordinasi Sumberdaya Manusia, Iptek dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Safri Burhanuddin mengatakan, pertemuan di Gua yang sudah dihuni tiga generasi ini karena ingin menunjukkan secara langsung pengelolaan Gunung Sewu Unesco Global Geopark. “Selama ini rapat di kantor, kita ubah mending langsung kelapangan untuk melihat keberhasilan pengelolaan geopark,” katanya ditemui disela Rakor Geopark Indonesia di Goa Rancang Kencono, Bleberan, Playen, Jumat (18/11/2018)

“Karena diantara global geopark yang ada yang paling maju Gunungsewu, maka Gunungsewu yang kami lihat sebagai barometer,” ujarnya. Menurut dia rakor ini diharapkan bisa menjadi bagian pengembangan geopark secara menyeluruh di Indonesia.

Saat ini sudah ada 4 Geopark di Indonesia yang diakui Unesco adapun diantaranya Geopark Batur di Bali, Gunung Sewu di tiga Propinsi yakni DIY, Jateng, dan Jatim. Geopark Rinjani, NTB, dan Geopark Ciletuh, Jawa Barat.

Untuk Geopark tingkat Nasional ada 7 yakni Geopark Marangin, Jambi; Geopark Raja Ampat, Papua; Tambora, NTB; Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan; Danau Toba, Belitung, dan Bojonegoro Selama ini tantangan yang dialami dalam pengembangan Geopark di Indonesia.

Tantangan tersebut dinilainya lebih kepada sinergitas antara pemanfaatan alam dan mengajak masyarakat untuk membantu menjaga keseimbangan alam kawasan Geopark. “Paling banyak tantangannya ya dari kita sendiri, artinya kadang kita menerima tapi kita belum mau bersinergi dan berjalan sendiri (dalam pengelolaannya).

Contoh, seperti membangun Taman Nasional dan Cagar Alam hanya tonjolkan konservasi dan tidak kepada kehidupan manusia di sekitarnya,” katanya.

“Begitu juga membangun daerah pertokoan, hanya tonjolkan sisi manusianya dan kawasan alamnya tidak dipedulikan. Jadi harus ada keseimbangan untuk menjaganya (Geopark), karena kita harus memuliakan bumi dan mensejahterakan masyarakat,” ujarnya Klaim Pengentasan Kemiskinan Safri mengatakan, jika dilihat dari pengembangan pariwisata di Geopark Gunung Sewu, perkembangannya cukup signifikan. Sedikit banyak membantu mengurangi angka kemiskinan. “Kemiskinan di sini (Gunungkidul) angkanya menurun cukup signifikan,” ucapnya.

Jika merujuk data Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pada 2016 diketahui angka kemiskinan 19,34 persen, kini 2018 menjadi 18,65 persen. Pemerintah menargetkan sampai 2021 nanti di kisaran angka 15 persen. Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Asty Wijayanti mengatakan, belum ada penghitungan secara detail mengenai dampak penetapan status Gunung Sewu Unesco Global Geopark tahun 2015 lalu.

Namun diakuinya sejak beberapa tahun terakhir ada peningkatan kunjungan secara signifikan. “Jika dihitung pasti belum ada, tetapi kita lihat sudah banyak kunjungan wisatawan asing ke sini. Ini kemungkinan dampak dari status itu (Gunung Sewu Unesco Global Geopark),” katanya.

Perlu diketahui, Goa Rancang Kencono di Padukuhan Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, merupakan salah satu gua yang dihuni manusia pra sejarah, hingga modern. Diperkirakan gua yang terletak di kawasan Air Terjun Sri Getuk sudah dihuni sejak 3000 tahun lalu.

Dari buku Ragam Warisan Budaya dan Cagar budaya Gunungkidul, ditulis oleh Kepala Seksi Kepurbakalaan dan Permuseuman, Bidang Pelestarian Warisan dan Nilai Budaya, Dinas Kebudayan Gunungkidul, Winarsih menyebutkan Arkeologi UGM Yogyakarta pada tahun 2001 sudah pernah melakukan penelitian tentang Goa Rancang Kencono.

Penelitian tersebut menyebutkan Goa Roncong Kencono sudah pernah dihuni manusia sejak 3000 tahun yang lalu dengan bukti temuan tulang manusia. “Goa Rancang Kencana ini dimanfaatkan juga masa kemudian, yaitu pada awal adab 18 yaitu sekitar tahun 1739 digunakan oleh laskar Mataram karena Madiun telah terjadi pengusiran oleh penjajah Belanda,” kata Winarsih.

Untuk menikmati keindahan goa dan Air Terjun Sri Getuk, pengunjung cukup membayar Rp 15.000, sudah bebas parkir dan toilet. Sebagian hasil retribusi digunakan untuk membayar retribusi pemkab, dan pengembangan kawasan wisata Sri Getuk.

Editor: Emerson

KOMENTAR ANDA
Berita Travel Terkini Lainnya
Destinasi - Selasa, 29 Januari 2019 - 18:31 WIB

Ekonomi Batam lesu, ritel beken menutup gerai

BATAM kini tidak lagi menjanjikan bagi sebagian ritel berjaringan tingkat nasional. Akibatnya, sejumlah ritel beken memilih menghentikan operasinya.Penutupan ritel nasional ...
Tak Berkategori - Senin, 21 Januari 2019 - 12:40 WIB

Pemerintah persilahkan KPPU selidiki dugaan kartel pada tiket pesawat

MAHALNYA harga tiket pesawat menjadi keluhan pengguna angkutan udara sejak pertengahan 2018, sehingga banyak kalangan menduga terjadi kartel dalam penjualan ...
Mancanegara - Selasa, 15 Januari 2019 - 23:10 WIB

Ada kota di Cina yang tak boleh sembarangan dikunjungi

KOTA Taian di Provinsi Shandong jadi tempat penting bagi masyarakat China. Di zaman dulu, tak sembarang orang bisa datang!Tai Mountain ...
Jelajah - Kamis, 10 Januari 2019 - 22:27 WIB

Garuda Indonesia tampilkan musik akustik di pesawat

MASKAPAI nasional Garuda Indonesia kembali menghadirkan terobosan baru dalam memberikan pengalaman penerbangan yang berbeda kepada pengguna jasa melalui hadirnya hiburan ...
Indonesia Ku - Kamis, 10 Januari 2019 - 22:17 WIB

Indonesia negara paling aman ke-9 di dunia

INDONESIA ditetapkan sebagai salah satu negara paling aman di dunia atau berada di urutan kesembilan menurut laporan Gallup’s Law and ...
Jelajah - Rabu, 2 Januari 2019 - 23:40 WIB

Satpol PP Batam harus bertanggungjawab atas praktik pungli di Jembatan Barelang

KOMUNITAS pecinta wisata Barelang mengeluh pungutan liar (Pungli) di Jembatan Balerang yang kian lama kian meresahkan pengunjung. Mereka meminta Satuan ...